Sayap Yang Patah
Karya : Rista
Sesosok pemuda berjalan menyusuri sepanjang lorong menuju sebuah ruangan yang gelap. Tubuhnya terhuyung-huyung. Tangannya terlihat gemetar seperti sedang menahan sesuatu yang sangat menyakitkan. Wajah tampannya biru lebam karena pukulan. Darah segar mulai menetes dari bibirnya yang telah kaku.
************
“Paaaakk!!”
sebuah tamparan keras mendarat di pipi seorang pemuda yang bernama Ayler.
Namun senyum sinis terukir dibibirnya. Matanya terus melotot memandangi ayahnya.
“Apa yang kau lihat hah?!”
ayahnya balas memandangi anak semata wayangnya itu.
“Masih belum cukupkah ‘pelajaran’ dariku tadi?!”
kata-kata ayahnya tak sanggup membuat mulut Ayler mengeluarkan sepatah kata pun namun terlihat jelas bibirnya terus gemetar menahan sakit.
“Hajar saja aku terus sampai kau puas! Itu kan yang kau inginkan? Semenjak ibu pergi, kau terus memperlakukanku layaknya binatang! Aku ingin tahu bagaimana perasaan ibu di surga ketika mengetahui hal ini.”
Mulutnya basah berlumuran darah yang terus menetes.
“Tahu apa kau tentang ibu?”
Ibu Ayler memang telah meninggal sejak dua tahun yang lalu karena penyakit kronis yang dideritanya. Sejak itu sang ayah berubah menjadi sosok yang tempramen.
“Buukkk!!”
Satu tendangan kembali mendarat di punggung Ayler. Dia pun tersungkur tak sadarkan diri.
Beberapa hari ini sekolah terasa sunyi. Hanya beberapa anak siswa terlihat berlalu-lalang di halaman sekolah.
Ayler berjalan menyusuri koridor sekolah. Langkahnya terasa berat. Masih terlihat jelas memar pada wajahnya, dia terus memegang perutnya yang masih terasa sakit. Pikirannya kacau. Barusan juga dia dimarahi oleh guru BP karena ketahuan memukul adik kelasnya hanya karena masalah sepele. Bukan baru sekali itu saja Ayler bermasalah, ini sudah yang kesekian kalinya.
Hari ini Ayler tidak berencana akan langsung pulang ke ‘neraka’ nya. Entah kemana dia akan membawa diri beserta jiwanya yang terluka. Dia selalu mengatakan bahwa “hidup adalah kematian, dan kematian adalah surga bagi dirinya…” suatu pernyataan yang membingungkan. Tapi itulah Ayler. Di pikirannya kini hanya ada kebencian dan kematian. Maka jangan heran jika semua orang takut akan sosok ‘iblis’ nya.
Beberapa saat kemudian ia sampai disebuah gudang yang kosong.
“Hhhmmmmm…”
Dilihatnya sekilas tempat itu. Sepertinya tempat itu sudah sering dikunjunginya. Sejenak dia duduk bersandar di sebuah kursi tua yang sudah kelihatan kotor dan berlumut. Dia kemudian meraih tas hitam-nya, dia kembali menyuntikkan sesuatu dilengannya. Ya! Dia seorang pemakai narkoba. Kebiasaan ini dimulai sejak setahun lalu. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Tali. Entah untuk apa seorang anak kelas 3 SMA membawa tali didalam tasnya.
Ayler tersenyum tipis. Didalam matanya tersimpan dengki dan amarah yang semakin sulit untuk dikontrol. Sisi ‘malaikat’ nya seolah telah hilang seiring luka yang terus menyayat.
Untuk pertama kalinya dia menyusun rencana kematiannya sendiri. Seperti sedang mengantri tiket menuju ke alam baka. Akhirnya dia berdiri di sebuah kayu yang cukup tinggi dan melingkarkan tali dilehernya yang telah diikat di loteng, ia kini bersiap melompat. Mengakhiri hidupnya yang fana berharap dapat diterima disurga nanti.
“Aku siap…..” desisnya gemetar.
“1…2….3…” Ayler menutup matanya dan segera melompat.
“……………………..”
“Uh,”
perlahan matanya terbuka.
“Apakah ini surga? Mengapa masih gelap?”
pikirnya dia telah mati dan sudah menjadi penghuni surga. Tapi setelah dibuka matanya lebar-lebar dia menyadari ada seseorang yang memotong talinya. Sehingga rencana ‘terbesar’ nya gagal.
“Siapa itu?” dia kembali mendesis.
Dilihatnya seorang perempuan cantik berdiri mendekatinya.
“Siapa kamu?” tanya Ayler lantang.
Namun sang perempuan hanya tersenyum simpul.
“Mau bunuh diri? Sepertinya kamu belum berbakat dalam hal ini.”
katanya sambil berdiri didekat Ayler namun tetap tersenyum.
“Memang apa urusannya sama kamu?”
Ayler memasang tampang galak namun lebih terlihat ketakutan.
“Kamu masih mau hidup kan?”
kalimat sang perempuan begitu santai seolah tak memperdulikan Ayler.
“Kematian adalah akhir dari cerita namun bukan menjadi tujuan cerita…,”
akhirnya perempuan itu pergi. Misterius. Sangat misterius. Sehingga sanggup membuat Ayler menganga tak jelas.
************
Hari ini pikiran Ayler kusut melebihi seragam sekolah yang dipakainya. Pasti dia sedang memikirkan sosok gadis yang sudah berani-beraninya menggagalkan ‘acara’ nya.
“Siapa sebenarnya gadis itu?” rasa penasaran terus menggentayangi pikirannya.
Ketika bel pulang berbunyi, sekolah menjadi begitu ramai dengan lautan anak-anak yang memenuhi halaman sekolah. Diantara kerumunan siswa dia melihat seseorang yang…… ya! Perempuan itu… Perempuan yang kemarin mengacaukan rencanaku…
Ayler segera berlari mengejar bayangan gadis itu. Namun ternyata dia telah menghilang. Cepat sekali!
“Sial!” umpatnya.
************
Keesokan harinya selepas bel pulang berbunyi dan anak-anak telah banyak yang meninggalkan sekolah, terlihat Ayler masih betah duduk sendiri di atap sekolah. Wajahnya terlihat sendu….suram…. seperti kehilangan semangat hidup.
Tiba-tiba dia bergegas pergi menuju…. Entah tempat apa lagi yang akan dia tuju.
Langkahnya yang gontai membawanya di depan sebuah pintu…..kamar mandi!
Dia pun duduk diatas sebuah bak yang kering sambil memegang 2 benda ditangan kirinya. Yang satu adalah sebuah foto. Foto ibunya yang sangat ia sayangi. Dan yang satunya lagi adalah….cutter!!
Dengan wajah yang sesengukan karena menahan air mata, dia lagi-lagi berusaha menyakiti dirinya sendiri. Dia mulai mengukir tangannya dengan cutter yang tajam. Hingga akhirnya dia mulai merasa kesakitan karena luka yang mengenai urat nadinya semakin dalam. Darah segar terus mengalir. Membuat kesadarannya semakin hilang dan tenggelam.
“Mungkin sekarang sudah saatnya aku pergi….,”
nafasnya terengah-engah. Begitu menderita…..
“Aku ingin segera pergi…, aku ingin pergi dari dunia ini, dunia yang kubenci, dunia yang penuh kepalsuan…pengkhianatan….” Ia meringis kesakitan.
“Aku ingin segera pergi ke surga, memakai sayap bagai seorang malaikat dan bertemu ibu….,” pandangannya kian kabur.
“Hiks…Hiks…”
“……………………………”
“Taaakkk!!!”
sebuah pisau mengarah dari arah depan dan menusuk pintu kayu tepat disamping Ayler duduk. Pemuda itu terperangah di sisa-sisa kesadarannya.
Matanya melotot ketika melihat kembali perempuan yang sempat dicari-carinya.
“Hey, kamu tidak kapok-kapok juga ya? Kau pikir mati itu menyenangkan?” perempuan itu mendekati Ayler.
“Tahu apa kau tentang hidup dan mati? Kau tidak akan pernah mengerti dengan apa yang sedang aku alami!” teriaknya dengan suara parau.
“Kau yang tidak tahu apa-apa…, tidak pernah tahu arti hidup…., tidak pernah tahu bagaimana rasanya dikejar oleh kematian!!” perempuan itu mulai menangis membuat Ayler terkejut.
“Kau seenaknya ingin pergi dari dunia ini! kau pikir kau akan diterima disurga? Kau pikir ibumu akan senang?” gadis itu semakin terisak.
“Kalau kau ingin mati. Mati saja sekarang! Biar aku yang membunuhmu. Dan setelah itu, aku akan membunuh diriku sendiri.”
Ayler kini tak sanggup berkata-kata. Matanya kosong memandang sosok perempuan misterius itu yang melangkah pergi meninggalkannya.
“Tunggu! Ku mohon jangan pergi…. Tolong selamatkan aku….!!”
pemuda itu berlari mengejar gadis misterius itu dan berusaha menggapai tangannya. Kini dia berlutut didepan perempuan itu.
“Aku tidak bisa…. Kaulah yang harus menyelamatkanku….,”
Sang perempuan pun berlalu dari hadapannya.
Dua hari kemudian setelah Ayler selamat dari percobaan pembunuhan oleh dirinya sendiri, kini dia sibuk mencari sesuatu. Ya! Dia mencari tahu tentang keberadaan perempuan misterius yang selalu muncul dihadapannya.
Namun tak ada satupun petunjuk.
“Oh iya, mungkin pak Parman tahu tentang cewek itu!” Ayler segera mencari keberadaan laki-laki tua yang berprofesi sebagai penjaga sekolah.
Akhirnya Ayler menemukan titik terang. Ternyata perempuan itu bernama Chezy.
**************
Seorang gadis duduk tenang di sebuah taman kecil yang dikelilingi oleh cahaya lampu yang meneranginya di tengah gelapnya malam. Wajahnya terlihat sangat pucat. Seperti sedang menanggung beban yang amat besar. Sesekali ia terbatuk-batuk dan nafas yang tersendat-sendat. Ya…. Dia sakit. Dia mempunyai penyakit Kanker Paru-Paru. Baginya kematian hanya tinggal menunggu waktu.
Ia sedang sibuk membuat sesuatu. Dia menempelkan banyak sekali potongan kertas pada suatu pola yang berbentuk sayap. Dia seorang gadis yang kesepian. Dia seorang yatim piatu. Orang-tuanya meninggal karena kecelakaan yang menimpa mereka. Dia adalah Chezy.
**************
Beberapa minggu kemudian, secara tak sengaja Ayler menemukan sosok perempuan yang selama ini dicarinya.
“Hey….kamu….” kata Ayler dengan nafas yang terengah-engah. Dia berdiri di depan perempuan yang sedang duduk tenang sambil terus membuat pola sayap-nya seolah tak memperdulikan kehadiran Ayler.
“Sedang apa kamu? Mengapa kau duduk sendiri disini?” tanya Ayler dengan wajah yang penasaran. Namun sang gadis hanya tersenyum simpul.
“Hey, apa kamu tuli?”
akhirnya perempuan cantik itu menatap Ayler. Wajahnya bersih, seakan tak ada cacat cela.
“Maaf, aku sedang sibuk…”
“Memangnya kau sedang membuat apa?”
“Aku sedang membuat sayap….,”
“Sayap? Untuk apa? Apakah kau akan tampil dalam pertunjukkan drama?”
“Iya…., aku berperan sebagai malaikat yang terbang ke surga..,”
“Hah? Surga?”
“Tapi……,” entah mengapa gadis itu mulai menangis.
“Kamu kenapa?”
“Aku takut pertunjukkan itu akan dimulai sebelum aku sempat menyelesaikan sayap ini…,”
“Biar aku bantu! Memangnya pertunjukkan kamu kapan? Mungkin aku bisa menyempatkan diri untuk hadir dan menonton pertunjukkannya!”
“Aku tak tahu, mungkin sebentar lagi…………,” kini gadis itu tak mampu berkata-kata. Dia hanya tertawa sambil terus mengeluarkan air mata.
“Kau bodoh! Tak ada yang mau menonton pertunjukkan-ku.”
“Hah… aku tak mengerti maksudmu. Ohya, namamu Chezy kan?”
“Iya. Tapi untuk apa kau mengenalku? Sebentar lagi aku akan menghilang”
“Aku hanya penasaran saja. Mengapa kamu selalu muncul di saat-saat yang tak terduga?”
Tapi perempuan itu hanya diam seribu bahasa. Membuat Ayler semakin bingung dan terus bertanya-tanya.
“Mengapa kau hanya diam? Bicaralah…. Ohya, namaku Ayler! Aku harap
kita bisa berteman baik”
“Untuk apa kau berteman denganku?”
“Apa maksudmu? Apakah karena aku seorang pemakai narkoba?”
“Tidak….., tapi karena…. Aku akan segera mati”
“Hei.. bicara apa kau ini?” Ayler semakin kebingungan
“Aku sakit.., dan hidupku tidak akan lama lagi….”
“Hah? Kamu sakit? Tapi apa secepat itu kamu menyerah?”
“Aku juga masih ingin menikmati hidup seperti orang lain, tapi penyakit
ini perlahan mulai memakanku. Kini aku tinggal menunggu waktu”
“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu mati, hidupku bergantung padamu”
“Kau salah, aku hanya ingin kau sadar bahwa setiap hembusan nafasmu
berharga…. Dan jangan pernah kau menyia-nyiakan hidupmu…”
“Tapi……, mengapa harus kau… Mengapa bukan aku saja yang mati…”
“Karena Tuhan masih memberikanmu kesempatan untuk hidup…..,”
“…….” Ayler hanya diam, tanpa diduga dia mengeluarkan air mata.
“Mungkin kini saatnya aku harus pergi… tenang saja, aku akan menyampaikan salam untuk ibumu.. pasti dia akan sangat bahagia bila mengetahui anaknya baik-baik saja..”
Ayler tak mampu lagi berkata-kata. Dia hanya terus menganggukkan kepala.
“Berjanjilah untuk terus hidup dan bahagia, aku yakin suatu saat ayahmu akan berubah. Jaga dirimu baik-baik….” nafas Chezy semakin sulit dikendalikan.
“Terima kasih untuk segalanya…. Walaupun hanya singkat, tapi kau sanggup mengubahku…. Aku janji aku akan buat yang terbaik. Karena aku mencintaimu…..”
Kini Ayler sadar bahwa dia mencintai Chezy. Diapun memeluk erat tubuh Chezy yang semakin lemah.
“Ayler……, terima kasih……., aku juga mencintaimu………………,”
akhirnya Chezy menutup matanya, namun dia tersenyum. Dia pergi dengan tenang dipelukan Ayler. Air mata terus membasahi pipi Ayler.
Kemudian dia mengambil pola yang telah berbentuk sayap dan memakaikannya di punggung Chezy.
“Kini kau bisa pergi dengan tenang, jangan lupa sampaikan salamku pada ibu…. Tetaplah bahagia….. Aku disini akan terus berdoa untukmu.”
*********************
TAMAT